KETIKA menulis tentang animasi, saya ingin mengatakan bahwa saya hanyalah orang yang suka animasi, tentu saya bukan seorang animator handal yang bisa mengoperasikan sebuah software, membuat sebuah desain visual hingga menjadi gambar bergerak dengan seni tinggi.
Tidak saya bukan orang seperti itu, saya hanya penyuka film kartun, saya penyuka Doraemon, Ninja Hatori dan Upin dan Ipin. sekali lagi saya penyuka gambar bergerak sederhana yang mempunyai seni tinggi seperti dalam iklan-iklan di tivi kita. Jangankan membuat animasi membuat kartun berbentuk kepala orang saja, saya tidak bisa.
Namun saya punya persepsi lain soal animasi, begini, dalam animasi seorang animator bisa membuat sesuatu gambar atau peristiwa sesuai apa yang diinginkannya, bahkan hal yang tidak mungkin terjadi bisa dibuat seolah nyata dalam bentuk hiburan.
Lihat saja animasi besutan anak Indonesia yang berjudul “Suatu Ketika” di bawah oleh Studio Lakon Animasi, dalam film pendek itu suatu ketika terjadi keanehan besar, sebuah UFO telah mengubah benda-benda yang terbuat dari besi berubah bentuk menjadi robot super, seperti angkutan bemo, sepeda motor bahkan radio. Mirip dalam film anyar besutan Michael Bay lewat Studio DreamWorks Pictures.
Nah dalam dunia nyata hal itu mustahil terjadi, tapi melirik perkembangan kemajuan teknologi hal itu akan terjadi, cepat atau lambat walau tidak semirip yang seperti film-film animasi di atas.
Dalam kepala, saya membayangkan seandainya saya bisa membuat film animasi, saya akan merancang sebuah kota di Aceh, yang berbeda dari kota sekarang, terus terang saya tidak suka melihat tata letak kota Banda Aceh sekarang, tidak jelas ini kota sejarah atau kota visual, semuanya tidak tertata dengan baik.
Maka lewat animasi saya akan membuat sebuah kota baru yang menarik yang mempunyai tata letak yang jelas, bangunan rapi dan sederhana yang berbalut nilai sejarah, menghidupkan transportasi air, membangun sarana hiburan yang mencerdaskan, memajukan masyarakat lewat perkembangan teknologi.
Tak hanya melulu soal kota, lewat animasi nantinya saya menggambarkan lebih dalam, mulai dari bahasa, seni budaya dan nilai-nilai sejarah.
Ketika melihat animasi itu yang saya pikirkan, bukan berarti saya ingin menjadi Walikota atau pimpinan sebuah daerah, terus terang saya tak suka hal yang begituan, saya lebih suka beranimasi dan hidup dalam karya-karya digital sambil membayangkan masa depan yang lebih baik dan mudah.
Terlepas dari itu, walau saya tak bisa membuat animasi tapi saya punya keinginan untuk belajar animasi keluar negeri, paling tidak dengan adanya fasilitas sederhana yang saya miliki saya mulai membuat animasi-animasi sederhana, disamping pekerjaan saya sebagai pelaku desain. Satu lagi saya juga mendambakan sekolah animasi hadir di Aceh.
Nah, bagaimana dengan Anda apa yang anda lakukan kalau Anda Seorang animator?













Memanglah, keinginan yang mulia.Saya juga jenuh dengan kondisi Aceh hari ini.
Kalo saya jadi animator, saya akan membentuk sebuah kota bawah laut atau Kobal City. Letaknya di antara Banda Aceh, Sabang, dan Pulo Aceh. Agar duni tahu lalu turis asing tergila-gila, saya akan menyiarkan kehebatan kota itu dari bawah permukaan laut lewat teknologi canggih.