Aku dan Sandalku

“Kau sudah punya kerja, kau banyak uang, kau beli lah yang baru” begitu tanggapan Akmal ketika melihat sandalku yang sudah agak lusuh di makan waktu. Tak kupedulikan kata-katanya yang memojokkan aku. “Itu bukan urusanmu, selama masih bisa kupakai, akan kuselip di kakiku kemanapun aku pergi” Balasku dengan nada meninggi

Walau aku dan Akmal sering mengejek satu sama lainnya, kami tak pernah berujung dengan bermusuhan. Dia sohib terbaik yang pernah kumilki. Walau tiap hari kucaci dan kumaki, dia diam saja hanya menelan muntah kata-kata pahitku. Setelah sekian kali ku lontarkan kata-kata kasar padanya, dia hanya diam, dan ikut tertawa ketika aku tertawa, ha ha.

Saat kutulis tulisan ini, akmal berada di sampingku, “Guda-guda kap situk peu hayeu-hayeu droe” celotehnya ketika kubacakan tulisan ini padanya. Entah apa arti celotehnya di atas, mungkin kata-kata yang lebih menyakitkan dari kata-kata pahit yang pernah ku lontarkan padanya. Aku hanya diam saja dan meneruskan menulis tulisan ini.

Kembali ke sandalku, aku tak tahu pasti berapa sudah umur sandalku. aku membelinya seharga Rp50 ribu, di toko matahari di Matangglumpangdua. Aku membelinya malam sewaktu pulang Shalat tarawih di Mesjid Jamik Peusangan, yang berada di pusat kota Matangglumpangdua. Seingatku aku membelinya pada Bulan Puasa tahun 2006. Aku tak tahu pasti kehebatan apa yang dimiliki teman kakiku itu. Yang pasti jam terbang diriku dan sandalku itu sudah tinggi.

Sandalku bermerek Connec, entah ada atau tidak merek itu sekarang. sandalku berwarna hitam, talinya berwarna biru, di padu garis-garis biru, bertuliskan connec dengan huruf besar di tengah, membuat sandalku itu enak di pandang. Kata penjual merek itu sering di pakai Ariel vokalis peterpan saat manggung. Mungkin aku terlena dengan kata penjual hingga aku tertarik membelinya. Harganyapun hanya seharga uang yang ada di kantongku.

Sekarang sandalku sudah agak tua, aku sedih ketika bersandingan dengan sandal lainnya, yang lebih bagus darinya, bukan aku sedih karena sandalku jelek, melainkan karena sandalku yang tidak di hargai, dan sering terjepit di bawah sandal lain yang lebih bagus sedikit. Apalagi kalau bersanding di tempat ramai bersandal, sudah pasti sandalku terpisah dari pasangannya.

Aku punya uang untuk membeli yang lain, tapi aku tak pernah punya niat untuk membeli yang baru, selama masih bisa di pakai buat apa beli yang lain. Lebih baik beli barang yang lainnya saja. Pernah beberapa kali sandal itu membuat aku sering terpeleset, di kamar mandi, karena tapaknya sudah licin karena aus, tapi aku tak menghiraukan karena ia tak pernah mencelakakanku. Sandalku temanku.

Tags: , ,

5 Responses to “Aku dan Sandalku”

  1. Aulia 08 Apr 2009 at 7:33 pm #

    Menyoe jak kamoe manoe sok silop jepang manteng, hana meuhai nyan! sabab ata jeupang.

    Menyoe jak u kampus baroe sok silop connec, nyan ka bereh! :)

  2. zulham 08 Apr 2009 at 8:25 pm #

    ~ Aulia
    Sigeu-geu na lon pakek silop jepang ‘oh jak u kama manoe.
    Nyoe di Kampus Han geubi silop connec, geu dheuk teuh! geu yu woe :)

  3. Aulia 13 Apr 2009 at 4:19 pm #

    inan hana mangat lom, masak u kampus hanjeut sok silop connec. Peugah bak dosen meuhai-hai tabloe ka han geubi sok.

    alah di javakarta hana le that peraturan si dosen, pu yang na jeut tasok :D

  4. Oelil 17 Jul 2009 at 1:49 pm #

    gak perlu mahal dan ganti2 sandal..kan cuma diinjak2…

Trackbacks/Pingbacks

  1. Dan, kita pun putus | - 15 Aug 2011

    [...] malam ini kau mengakhiri semuanya, jasamu tak pernah kulupakan, selamat tinggalkan sandalku. Share [...]

Leave a Reply